Sunday, November 20, 2011

because its not always surprise

keputusan untuk mengunjungi psikiater adalah langkah yang tepat. mendewasakan. menyadarkan bahwa perencanaan diperlukan, "membiarkan segala yang terjadi sebagai surprise akan membuatmu naive, savira", itu kata psikiater saya Kamis kemarin. saya memang tipe orang yang kurang suka membuat perencanaan, saya merasa kejutan-kejutan akan membuat hidup lebih menyenangkan. Namun ternyata dokter itu betul, saya tidak begitu sadar bahwa kadar naive saya berada di level mengkhawatirkan.

Tidakkah waktu ini adalah momen yang sangat tepat untuk mengatur langkah? satu bulan lagi tahun ini berakhir. Seperti yang lain, tahun baru dijadikan momentum untuk membuat perencanaan-perencaan. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana saya harus memulainya?

"Dengarkan kata hatimu, Savira, jiwa yang tidak tenteram karena kita sering abai dengan apa yang sebetulnya kita inginkan, kita seringnya takut kehilangan," kata dokter saya lagi.

Betul sekali, keputusan yang saya ambil kerap berseberangan dengan apa yang dikatakan oleh hati. Karena itulah, akhirnya saya mempertanyakan kembali apa-apa yang sudah saya miliki "is this really what I want", kondisi ini membuat saya gesilah, jiwa saya bergejolak, ujungnya adalah kesepian, kehampaan yang melanda hari demi hari, saya tidak bahagia.

mungkin hal pertama yang akan saya lakukan adalah mendengarkan. Mendengarkan nurani yang belakangan sering saya tepis suaranya. Jika saya menangkap suara-suara, akan saya catat, saya kumpulkan, saya pilah-pilah, sebagai fondasi untuk merencakan, untuk setidaknya mengurangi kadar naive yang terlalu mengkhawatirkan itu.

Pertanyaan pertama, Vira.

1. Carreer atau menikah.

Saya benar0benar tidak tahu jawabannya. Saya belum mendengarkan hati, saya belum mengajak hati untuk bicara serius tentang ini.

Jika saya memilih menikah maka pernikahan itu akan menjadi pernikahan yang tidak mainstream. Pekerjaan saya no maden. Berpindah-pindah, load tinggi, pertemuan-pertemuan malam hari. setidaknya ini akan terjadi hingga dua tahun ke depan. Saya menandatangani kontrak untuk tidak boleh mengundurkan diri dalam tiga tahun.

Saya perlu bekerja karena orang tua saya tidak akan mampu menghidupi hobi saya beli coat merk tertentu, liburan di waktu tertentu dan pengeluaran konsumtif saya lainnya.

Saya perlu bekerja karena saya suka presentasi, entah di depan peers, senior manager, atau higher level.

Saya perlu bekerja karena saya perlu menabung untuk berlibur di New York selama satu atau dua bulan, nanti saat saya sudah berkepala tiga.

Saya perlu bekerja karena sewaktu-waktu orang tua saya meninggal, saya masih ada dua adik yang harus dibiayi. hal ini patut menjadi salah satu alasan kenapa saya bekerja, meskipun saya yakin orang tua saya akan meninggalkan harta yang lumayan untuk menyekolahkan dua adik saya itu, but i still have to take it as a count


untuk memenuhi keperluan-keperluan diatas ada resiko yang harus dihadapi :

saya berada jauh dari rumah
saya melewatkan acara-acara keluarga
saya harus mengatasi rasa rindu kepada orang tua dan adik-adik saya sendirian
saya harus berhadapan dengan konflik di kantor
saya harus menjadi sangat fleksibel dengan perubahan-perubahan cara kerja
saya harus menjadi sangat adaptif dengan kultur yang berubah


Jika saya menikah dan pasangan saya menuntut saya untuk menjadi dedicated-wife, maka saya akan tinggal di rumah, Bangun pagi memasakan (one of my hobby), membersihkan rumah, ikut kursus memasak, menyiapkan makan malam, and welcome my husband home. Di kepala saya, saya akan tinggal di sebuah apartemen dua kamar dengan dapur kecil yang manis dan a beautiful couch. Dengan catatan bahwa saya menikahi seorang laki-laki dewasa berpenghasilan tinggi yang bisa mengakomodir hobi saya berbelanja, membiayai kursus masak (yang tidak murah), dan segala figur Mr.Big yang sayangnya cuma ada di Film.

More or Less saya menemukan figur ideal itu pada diri Sasha. Dia dewasa, umur yang sempurna yang cari, Fat pay-check, kami menikmati joke yang sama, kami punya selera yang sama atas restaurant, cafe, item-item produk kapitalis, he will kiss me when I said "I am Marxis", he hug me when I sleep until I wake up, He opens door for me, he pulls chair for me, he is just my Mr. Big and he stays in Iran.

Be realistic, We are far, full stop. Hati saya mati-matian nggak mau mengatakan bahwa anggap saja ia sebagai anomali dari fenomena hidup. hati saya ingin berharap bahwa he will move here To Indonesia, then we married, stay in an apartement with city-view and bla bla bla.

Is that what you want? Yes, If you ask me, is that what I want then my answer would be Yes. The problem is I must be realistic about this distance issue.

Jika saya tetap berharap, stay naive, maka saya akan sakit ketika ekspektasi saya tersebut tidak terjadi. very very hurt.


So what should I do ?

Dua tahun ini stay focus on your career, Vira. jangan pernah merengek tentang rasa rindu dengan keluarga. rencanakan cuti untuk tinggal dua atau tiga hari di rumah dalam setahun. Bangun pagi, sarapan yang baik, perbanyak minum air putih, jangan lewatkan buah dan sayur setiap harinya, taking care on your skin, hindari begadang. Dan tidak boleh menutup diri atas pria-pria.

When Sasha sent you email, receive it, reply it, do it without any expectation. Remember that in these two years, your only goal is working. Di akhir tahun kedua, awal tahun ketiga, mulai browsing tentang schoolarship. Prepare yourself for studying abroad.


Do you really will skip relationship-matter? No not at all, kemungkinan-kemungkinan tentang asmara boleh menyisip di sela-sela proses di atas. Usia dan jodoh adalah gift. Namun this relationship-matter tidak boleh mengubah my core-plan.

I am not going to get married in these two years. Do the relationship but not marriage.

Dua atau tiga tahun kebelakang saya sudah cukup galau oleh ketidakpastian dan surprise surprise yang melanda. This is a right time for me to revolutionize my life. maybe life is not always like a box of chocholate, we make the chocholate, put it in a box, close the tap. and when open it, we already knew taste of the chocholate because we are the creator.


oh no, i feel better after writing this...

0 comments: