Thursday, November 19, 2009
This Too Shall Pass
Tidak ada jalan pintas. yang dilakukan adalah berjalan lurus pelan-pelan, lamat-lamat, nikmati suara gemuruh, untuk itu jangan sekali-kali menutup telinga dengan kedua tangan. Dekapkan saja lengan itu di dadamu, jika hari semakin dingin, berjalanlah agak cepat, bukan berlari. tersandung akan memperpanjang jarak. Tak ada jalan pintas, tidak juga saya berminat berbalik arah lalu mencari batu besar untuk ngumpet dibaliknya bersembunyi. Santai saja, seperti note di balik pintu yang berbunyi : This Too Shall Pass
Tuesday, November 17, 2009
Novi

kita memang belum pernah bertatap muka, bersalaman, berkenalan, lewat cara yang dulu, yang dulu ketika hidup ini hanya memungkinkan sapa lewat surat atau perjalanan jauh yang langsung.
tapi meski begitu, aku merasa bahwa kau ada, untuk itu, izinkan aku mencicipi sedikit saja rasa riangmu di tahun ini. selamat ulang tahun, selamat menikah.
Saturday, November 14, 2009
i postphone death
masih mau menghadapi pergulatan adalah tanda bahwa kita masih mau untuk meneruskan hidup, yang akhirakhir ini saya ibaratkan berhutang. Hidup adalah hutang, memenuhi apaapa yang terjanjikan, melunasi yang belum sempat dibayar.
Hari ini, saya yakin tentang kemenangan adik perempuan saya yang berbakat itu, tapi peringkat empat tentu sebaliknya, kekalahan di tangan, hanya yang tiga terbesar mendapat jatah liburan dari penyelenggara. 'Sekolah sekolah unggulan semua kak yang menang', ujar dia dengan suara yang tampak tak seantusias sebelumnya. Sekolah unggulan = sekolah mahal. Ia tidak sekolah di tempat yang 'diunggulkan' karena memang keluarga ini tidak dapat berdiri di atas yang serba mahal. Seharusnya dua adik saya mendapatkan fasilitas yang sama, seharusnya semuanya mendapatkan keunggulan yang sama.
Hari ini, seingat saya, adalah ulang tahun pernikahan mereka. sekian puluh tahun lalu, di usia yang sangat muda, lalu hadirlah saya dan dua adik perempuan saya. Ingin sekali saya ajukan pertanyaan, "apakah kau menyesal menikah?" tapi orangtua saya tak pernah menceritakan rasanya menikah. setidaknya, cerita tentang pandangan mereka sebagai individu yang bebas, mereka sebagai mereka sendiri, mereka yang bukan sebagai ibu atau ayah, atau istri atau suami, mereka tak pernah beritahu rasanya menikah kepada kami, anak-anaknya. Maka jika kesalahpahaman tentang makna pernikahan itu terjadi, setidaknya tolong jangan terlalu banyak menyalahkan kami.
Hari ini. sudah 18 jam saya tak mendengar suaranya. tapi, bukankah nasib memanglah kesunyiannya masing-masing. Lagipula, rasa dingin adalah rasa yang akrab. "Kakak semalam nangis ya," padahal lampu sudah saya padamkan, dia juga mendekap saya seperti telah lelap lama. "kakak cuma pilek", "Kakak bohong," ia kembali melanjutkan gambarnya, sebuah istana dengan atap yang runcing.
Hari ini, saya seperti yang berjalan tanpa mimpi, getar berbahaya muncul, tak baik hidup tanpa mimpi, ujar hati. Saya tahu bahwa tak pernah menyatu dengan apa-apa, segala yang ditapaki selalu membatas jarak, antara saya dan itu, apa saja. entah keluarga, entah pekerjaan, hubungan asmara. saya berada di bawah spotlight sebagai peran yang fungsional, bukan sebagai peran utama. saya terlalu banyak bersedih untuk orang lain.
Hari ini, saya yakin tentang kemenangan adik perempuan saya yang berbakat itu, tapi peringkat empat tentu sebaliknya, kekalahan di tangan, hanya yang tiga terbesar mendapat jatah liburan dari penyelenggara. 'Sekolah sekolah unggulan semua kak yang menang', ujar dia dengan suara yang tampak tak seantusias sebelumnya. Sekolah unggulan = sekolah mahal. Ia tidak sekolah di tempat yang 'diunggulkan' karena memang keluarga ini tidak dapat berdiri di atas yang serba mahal. Seharusnya dua adik saya mendapatkan fasilitas yang sama, seharusnya semuanya mendapatkan keunggulan yang sama.
Hari ini, seingat saya, adalah ulang tahun pernikahan mereka. sekian puluh tahun lalu, di usia yang sangat muda, lalu hadirlah saya dan dua adik perempuan saya. Ingin sekali saya ajukan pertanyaan, "apakah kau menyesal menikah?" tapi orangtua saya tak pernah menceritakan rasanya menikah. setidaknya, cerita tentang pandangan mereka sebagai individu yang bebas, mereka sebagai mereka sendiri, mereka yang bukan sebagai ibu atau ayah, atau istri atau suami, mereka tak pernah beritahu rasanya menikah kepada kami, anak-anaknya. Maka jika kesalahpahaman tentang makna pernikahan itu terjadi, setidaknya tolong jangan terlalu banyak menyalahkan kami.
Hari ini. sudah 18 jam saya tak mendengar suaranya. tapi, bukankah nasib memanglah kesunyiannya masing-masing. Lagipula, rasa dingin adalah rasa yang akrab. "Kakak semalam nangis ya," padahal lampu sudah saya padamkan, dia juga mendekap saya seperti telah lelap lama. "kakak cuma pilek", "Kakak bohong," ia kembali melanjutkan gambarnya, sebuah istana dengan atap yang runcing.
Hari ini, saya seperti yang berjalan tanpa mimpi, getar berbahaya muncul, tak baik hidup tanpa mimpi, ujar hati. Saya tahu bahwa tak pernah menyatu dengan apa-apa, segala yang ditapaki selalu membatas jarak, antara saya dan itu, apa saja. entah keluarga, entah pekerjaan, hubungan asmara. saya berada di bawah spotlight sebagai peran yang fungsional, bukan sebagai peran utama. saya terlalu banyak bersedih untuk orang lain.
Wednesday, November 11, 2009
alam raya, kabulkanlah
Dengan adanya facebook memungkin saya untuk melihat banyak varian. Saya pernah mengatakan pada Dona bahwa lihatlah foto-foto di situs jejaring sosial nya, kurang lebih apa yang ada di situ akan mencerminkan dirinya. Saya, meski tidak seratus persen, percaya bahwa sedikitnya kita bisa mendeterminasi seseorang via facebook.
Ada beberapa nama yang sering saya kunjungi, entah itu untuk mengamati status terbarunya, atau berharap ada koleksi foto terkini yang ia unggah. dari aktivitas tersebut, saya mencoba mempersepsikan mereka, tentu lewat kacamata saya dibantu informasi yang diserap lewat mereka sendiri. Aktivitas ini bukanlah sekedar melihat-lihat saja buat saya, lebih banyak dari itu, ia membuat saya detik ini berpikir, mau bertumbuh seperti apa saya kelak?
Ada dia yang tampak tak masalah membicarakan halhal yang dianggap tak lazim, ia juga tak terlalu peduli dengan kulitnya yang legam dibakar matahari 'black is the new white', ujarnya kerap kali. Ia kini sepertinya akan menetap di negara lain entah mana, setelah menghabiskan banyak waktunya di ubud, menikmati alam dan bermain gitar, ia kini melabeli dirinya sendiri sebagai 'citizen of universe'. Ia terlihat begitu ringan, menolak diberati oleh lembaga formal semisal Departemen PU, Kelurahan atau pernikahan. Sebagai remaja yang berencana untuk (akhirnya) nanti meninggalkan rumah, saya tentu terkagumkagum.
Juga ada dia yang hampir selalu diintip isi facebooknya, dia adalah bagaimana majalah mahal memanggilnya sebagai 'the have community'. tentu saja, terlahir saat segalanya tersedia membuat cita-citanya menjadi mudah, ia tampak ingin jadi pengusaha. ciri khas socialite, kulit dan rambutnya begitu majalah, apaapa yang ia kenakan juga begitu catwalk. Dia juga berambisi, isi kepalanya menunjukkan dirinya memang bukanlah the commoners. Konsep Resto n' Cafe yang ada di Plaza Senayan itu pun pastilah dipetik dari namanya, ia tampak bersemangat terhadap bisnis. Dan sebagai remaja dengan latar belakang pendidikan ekonomi yang hidup dari orang tua yang adalah wirausahawan, dia membuat saya selalu berpikir untuk menjadi seorang pedagang sukses.
Tapi, tidak sedikit juga yang bilang bahwa saya sebaiknya mengambil peran saja di bidang yang sifatnya 'komunikatif'. Saya disarankan agar nantinya mengambil jalur pendidikan formal di juluran komunikasi. 'kamu berbakat', begitu ujar mereka. Jika bertanya pada diri sendiri, apakah saya berbakat lalu menikmati bakat itu. ya saya menikmati uang yang saya hasilkan dari itu, namun bahagia, entahlah, tak jarang saya ingin segera menyelesaikan satu acara yang sedang saya bawakan, untuk kemudian beralih ke kegiatan berikutnya.
Saya ingin menikmati alam dan juga menjadi se ringan paragraf ketiga, tapi juga saya mau menjadi perempuan fungsional yang trendi seperti paragraf berikutnya.....pasti bisa ya. pasti!
Tuesday, November 10, 2009
momdadnosorry
Saya mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa masalah yang ada adalah semacam latihan untuk agar saya siap menghadapi sesuatu yang sedang menunggu saya di depan sana, di balik kabut masa depan itu, sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang harus saya kerjakan dengan tanggung jawab tinggi, dan sesuatu yang akan menghasialkan sesuatu yang tinggi pula. Dan ini harus! sesuatu yang besar itu harus hinggap pada saya. Karena saya punya tidak sedikit alasan akan itu.
Karena saya memilih untuk tidak membahagian orang tua saya melalui pengorbanan. Saya bukan Ismail yang mau disembelih. tidak tidak, cerita itu terlalu buduk untuk saya. Itu namanya bunuh diri sambil sakit hati dalam ketakutan dan kepasrahan diri yang sungguh tolol. Jikapun bunuh diri, saya akan melakukannya dengan dada membusung, juga dengan kebanggaan untuk tidak menyerah pada keinginan orang lain. Saya adalah ratu yang memiliki tubuh dan jiwa ini. tidak ada yang lebih berhak atas nya, sepetak pun.
sumpah. saya sakit hati betul atas yang mereka lakukan terhadap saya. saya kelaparan dan kesepian. saya kedinginan. untuk itu, mereka harus siap melepaskan, harus berani kehilangan. juga tentu saja saya, akan kehilangan.
bagaimana saya tidak mencoba untuk tidak lagi mencintai kalian ?
Karena saya memilih untuk tidak membahagian orang tua saya melalui pengorbanan. Saya bukan Ismail yang mau disembelih. tidak tidak, cerita itu terlalu buduk untuk saya. Itu namanya bunuh diri sambil sakit hati dalam ketakutan dan kepasrahan diri yang sungguh tolol. Jikapun bunuh diri, saya akan melakukannya dengan dada membusung, juga dengan kebanggaan untuk tidak menyerah pada keinginan orang lain. Saya adalah ratu yang memiliki tubuh dan jiwa ini. tidak ada yang lebih berhak atas nya, sepetak pun.
sumpah. saya sakit hati betul atas yang mereka lakukan terhadap saya. saya kelaparan dan kesepian. saya kedinginan. untuk itu, mereka harus siap melepaskan, harus berani kehilangan. juga tentu saja saya, akan kehilangan.
bagaimana saya tidak mencoba untuk tidak lagi mencintai kalian ?
Wednesday, October 21, 2009
menyapa begitu saja
saya baru saja menuliskan begini 'i dont mind to be kept in the wc for half an hour. and the title should be : "pokoknya demi cinta gua rela!", lalu tiba-tiba saja ada nama. nama yang dulunya sering kali saya sebutkan. saya ketik nama itu di mesin pencari, hingga mesin itu membawa saya benar, itu dia, kepadanya yang menghilang tanpa kabar.
ya ampun, saya terserap kembali ke rel kereta. saya ingat betul tentang kala itu, jogja basah karena hujan. saya menuju stasiun dengan kemeja putih yang baru dibeli. dengan kuncir rapi, juga sedikit pemulas pipi. waktu itu dengan jeans biru saya melangkah canggung menapaki koral di lintasan kereta. saya lalu menemukan dia diantara beberapa orang yang duduk mungkin menunggu, atau mungkin hanya sekedar menikmati sore sambil menyaksikan perempuan-perempuan pendamba mimpi seperti saya melewati mereka.
di tempat itu kami berjumpa untuk kemudian tak pernah lagi berjumpa. dia menghilang, setelah saya bilang bahwa saya hanya mau pertemanan. hari ini saya sadar, rupanya banyak yang menolak saya untuk dijadikan teman. padahal saya tak pernah menjadi tak sesopan itu.
hari ini pun saya sadar bahwa saya sangat kagum dan menghargai dirinya yang sudah membuat saya jatuh cinta banget sama jogja. entah kenapa jogja begitu membekas, padahal saya dan dia tidak dipertautkan, untuk alasan yang, materialisme reduktif, istilah yang saya temukan di blog pribadinya yang baru. yang baru. yang lama entah kemana, padahal dia pernah katakan pada saya bahwa ia akan menjaga 'telos'. namun tak pernah lagi saya temukan, dengan mesin pencari yang manapun juga.
ya ampun, saya merasakan tangan saya sedang menyapa dingin jogja malam hari. sungguh, hati saya tiba-tiba jadi haru sekali. saya pernah begitu menyukainya, ada fase yang tak akan pernah saya lupa, untuk itulah saya akan selalu mengingatnya, menghargai dia yang pernah membuat saya merasa begitu hidup. meski lantas kita tak pernah mencicipi rasa itu dalam kebersamaan, saya ternyata begitu mengingini dia, mengingini dia agar segala yang baik, semua yang ia doakan, hadir, muncul, menjadi, saat ia bangun tidur untuk kemudian menjadi terjaga.
Tuesday, October 13, 2009
mereka tak membaca metafora
saya semakin yakin bahwa saya memang harus pergi dengan secarik kertas. satu minggu sebetulnya tidak terlalu romantik untuk menghilang. apalagi di sepucuk itu tertulis tanggal kepulangan dan rute rute kepergian. tak ada yang seru, selain entah bagaimana jadinya sepulang nanti. tapi hati makin kuat memberikan dorongan untuk mewujud dalam mengikuti panggilan jiwa.
lagipula, setelah membacanya lagi, benar-benar berlebihan pargaraf di atas.
saya jelas menolak memilih jadi gila seperti Majnun atau melarutkan diri seperti gula ke air mendidih, melebur bersama sedih, seperti Laila. apalagi mengetahui bahwa tubuh ini gak bugarbugar amat, bagai pohon mangga bila diterjang dari belakang akan patah, saya tak menyerah.
hati tertusuk tusuk oleh rindu, tak ingin itu menjadi abadi. saya mau mengada bersama rasa, bukan menua oleh rindu.
musim hujan yang ditunggu disambut suka oleh ibu dan bapak, 'buah mangga kita meletek karena kering, untung hujan turun'. Bila saya tak bertemunya, saya tak hanya akan meletek seperti buah mangga, tapi akan meledak seperti balon yang terinjak. tak mau saya itu terjadi maka saya mengikuti hati ini. pergi. pergi.pergi.
seandainya orang tua saya seperti sapardi djoko dan nh dhini, akan mudah untuk sedikit saja memberi pengertia kepada mereka tentang rasa yang saya punya dalam bentuk puisi, tentu saya akan menulis seperti ini :
bapak dan ibu, bagaimanakah rasanya ketika ibu luka dan bapak tak ada atau sebaliknya?
nah, jika rindu merundung ibu sementara bapak jauh, bagaimana ibu bisa mendengarkan lagu yang kata orang paling renyah sekalipun.
ngomong-ngomong renyah, bagaimana dengan rasa kerupuk jika ibu terpisah dari ayah untuk tiga bulan lamanya? pasti lempem, layu. tak ada yang renyah jika suara bapak tak ada
dan jika bicara tentang tua, bagaimana kau merenda masa tua? ada bapak di sana, ada ibu di sana, kalian berpelukan, tersenyum-senyum, tak takut lagi mati menjemput karena sudah puas bersama dikala muda, hingga kini, hingga tua.
tapi bapak dan ibuku tak paham metafora. mereka tak kenal puisi. jadi sulit bagi saya membicarakan mengenai rasa, padahal pada mulanya mungkin hanya kata-lah yang bisa menghubungkan telinga bapak dan hati saya. tapi mereka tak suka puisi, mereka tak paham metafora.
saya sedih. mungkin mereka tak akan pernah bisa mengerti.
Subscribe to:
Posts (Atom)